Senin, 18 Maret 2013

TOT Liga Mahasiswa NasDem KPW Jawa Barat



Training Of Traineer (TOT) Liga Mahasiswa NasDem Jabar: “Belajar Ilmiah Dalam Bergerak”


Oleh: NasDem Boy

Latar Belakang 

Restorasi merupakan sebuah metode perubahan. Sama seperti halnya revolusi dan reformasi. Yang membedakan ketiganya adalah dari cara-cara yang ditempuhnya. Jika dilihat dari unsur resiko dan kerugian, tentu restorasi lah yang paling baik. Mengapa? Karena cara-cara yang ditempuh melalui legal formal yang ada. Jika reformasi identik dengan demontrasi, penjarahan, dan kekacauan. Sementara restorasi identik gentel dan fair, yaitu dengan mengikuti pemilihan umum melalui sebuah partai politik. Untuk mewujudkan Restorasi Indonesia, Partai NasDem lah yang menjadi kendaraannya.  


Secara sederhana, restorasi mempunyai pengertian: memulihkan; mengembalikan; memperbaiki; dan mencerahkan. Seperti halnya restoran atau gerbong restorasi dalam sebuah rangkaian kereta api yang mempunyai fungsi “mengembalikan”. Ya, mengembalikan perut kita yang sedang  lapar agar kembali terisi. Dalam konteks bernegara, tentu banyak hal yang perlu di-Restorasi. Bahkan mungkin dalam seluruh lini kehidupan sosial. Pendidikan, ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum, pertahanan dan keamanan, dll. Kapan Restorasi Indonesia terwujud? Ya, disaat Partai NasDem memenangkan pemilihan umum dengan prosentase keterwakilan di parlemen sebanyak 50%+1.


Jika kita mencoba untuk membuka lembar sejarah perkembangan negara-negara di Asia, kita akan menemukan apa yang disebut dengan “Restorasi Meiji” di Jepang atau “Restorasi Kebudayaan China”. Keduanya merupakan sebuah bentuk gerakan perubahan yang terpimpin, terorganisir, dan terarah yang menghasilkan sebuah tatanan baru masyarakat yang lebih baik. Restorasi lebih berat dilakukan dibandingkan dengan reformasi dan revolusi. Mengapa? Karena restorasi meniadakan unsur kekacauan, pertumpahan darah, dan politik-politik yang tidak sehat.


Liga Mahasiswa NasDem yang merupakan tulang punggung Gerakan Perubahan Restorasi Indonesia sejatinya mampu menurunkan nilai-nilai Restorasi tersebut di dalam kehidupan sehari-harinya. Baik di dalam kampus atau di tengah masyarakat. Bayangkan jika seorang manusia tanpa “tulang punggung” yang terjadi mungkin “kelumpuhan” bahkan untuk bangun berdiripun tidak akan bisa. Inilah pentingnya peranan mahasiswa dalam melakukan gerakan perubahan guna mewujudkan Restorasi Indonesia. Di hari kemudian, tentu akan terlahir orang-orang besar dari kantung rahim Liga Mahasiswa NasDem. Sama seperti halnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang mampu melahirkan orang-orang besar seperti Mahfud MD dan Yusuf Kalla.


Guna menyikapi posisi strategis mahasiswa dalam menyebarkan semangat restorasi dan melakukan perubahan di lingkungan sekitarnya maka diperlukanlah sebuah pelatihan yang masiv dan terarah guna membangun karakter building dan soliditas (militansi) para tulang punggung gerakan perubahan Restorasi Indonesia ini melalui sebuah kegiatan yang bernama Training Of Traineer yang diselenggarakan oleh Liga Mahasiswa NasDem Jawa Barat pada tanggal 15-17 Maret 2013 kemarin dengan menggunakan cara-cara baru dan pola pikir baru yang terbangun.

bersambung...


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar